Sabtu, 02 Juni 2012

pengertian halusinasi


BAB II
                                          TINJAUAN TEORI
A.     Pengertian
                 Halusinasi adalah keadaan seorang individu yang mengalami suatu perubahan pada jumlah atau pola stimulus yang diterima, diikuti dengan suatu respon terhadap stimulus tersebut yang dihilangkan, dilebihkan, disimpangkan, atau disukakan.(Judith M,Wilkson,2009).
                 Halisinasi adalah persepsi sensori yang keliru melibatkan panca indera dalam skizofrenia, halusinasi pendengaran merupakan halusinasi yang paling banyak terjadi (ANN Isacs Alih Bahasa dean praty Rahayu,2010).

B.     Psikodinamika
1.   Etiologi
               Secara pasti yang menyebabkan terjadinya halusinasi belum diketahui namun ada beberapa teori yang mengungkapkan tentang halusinasi (Stuart 2008) antara lain:
a.       Teori Interpersonal
Halusinasi berkembang dalam waktu yang lama dimana seseorang mengalami kecemasan yang berat dan penuh stress.Individu akan berusaha untuk menurunkan kecemasan itu dengan menggunakan mekanisme koping yang biasa digunakan, namun bila situasitidak dapat ditangani maka individu tersebut akan melanin, berangan-angan sehingga individu akan lebih sering menyendiri dan merasa senang dalam dunianya tanpa menghiraukan orang lain dan lingkungan sekitarnya.
b.      Teori Psikoanalisa

Halusinasi merupakan pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang ditekan  dan mengancam diri akhirnya muncul dalam alam sadar.
c.       Faktor Genetika

Gen mempengaruhi belum diketahui,tetapi hasil studi menunjukan bahwa  factor keluarga menunjukan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit,ini dibuktikan dengan pemeriksaan kromosom tubuh,indensi  sangat tinggi pada anak dengan satu atau kedua orang tua yang menderita atau  anak kembar identik.



2.   Proses terjadinya masalah
         Halusinasi dapat terjadi karena respon biologis terhadap stress meningkat bila terjadinya penurunan stabilitas,perpisahan dari orang yang sangat penting.Suasana yang terisolasi di sertai terbatasnya kemampuan individu dalam memecahkan masalah sehingga dapat meningkatkan kecemasan yang mengakibatkan lepasnya zat halusinogik neurokimia sehingga akan menyebabkan gangguan dalam putaran otak dalam menghadapi rangsangan,sehingga individu tidak mampu mengontrol pikiran,perasaan dan perilakunya.
3.   Jenis-jenis Halusinasi

a.       Halusinasi pendengaran atau auditori
               Gangguan yang seolah-olah mendengar suara paling sering suara orang yang dapat berkisar suara yang sederhana, sampai suara orang yang berbicara mengenai klien,klien mendengar orang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkan oleh klien dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu dan kadang-kadang  melakukan yang berbahaya.
b.      Halusinasi penglihatan atau visual
                     Halusinasi yang merupakan stimulus penglihatan  dalam bentuk pancaran cahaya,gambaran geometric,gambar kartun atau panorama yang luas  dan kompleks,penglihatan dapat berupa suatu yang menyenagkan atau yang menakutkan.
c.       Halusinasi penciuman atau olfaktori
               Halusinasi yang seolah-olah mencium bau busuk, amis atau bau yang menjijikan (darah,urin,atau peces).
d.      Halusinasi pengecap atau gustatorik
               Halusinasi yang seolah-olah merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikan.
e.       Halusinasi peraba dan taktil
                     Halusinasi yang seolah-olah mengalami sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat, merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati, atau orang lain.

4.   Tahap Halusinasi(Keliat, 2006).

a.       Tahap pertama
                Memberikan rasa nyaman tingkat ansietas sedang.secara umum halusinasi merupakan suatu kesenangan dengan karakteristik sebagai berikut: Mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan kekacauan, mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas serta pikiran dan pengalaman sensori masih dalam control kesadaran non psikotik.
Perilaku klien: tersenyum, berbicara sendiri, mengenalkan diri tanpa suara, menggerakan mata yang cepat dan berkonsistensi.
b.      Tahap kedua
               Menyalahkan, tingkat kecemasan berat. Secara umum Halusinasi menyebabkan rasa antipasti denagan karakteristik sebagai berikut: Pengalaman sensori menakutkan, merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut, mulai merasa kehilangan control,menarik diri dari orang lain.
Perilaku klien:terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah, perhatian dengan lingkungan berkurang, konsentrasi terhadap lngkungan sensorinya, kehilangan kemampuan membedakan halusiasi dengan realita.
c.       Tahap ketiga
               Mengontrol tingkat kecemasan berat. Pengalaman halusinasi tidak bisa ditolak dengan karakteristik sebagai berikut: Klien menyerah dan menerima pengalaman persesi sensori (halusinasi), isi halusinasi menjadi aktivitas, kesepian bila pengalaman sensori berakhir.
Perilaku klien:perintah halusinasi ditaati sulit berhubungan dengan orang lain,perhatian terhadap lingkungan berkurang,tidak mampu mengikuti perintah dari perawat.
d.      Tahap Keempat
               Klien sudah dikuasai halusinasi:Klien panic,resiko tinggi mencederai,agitasi ketaatan,tidak mampu meresponterhadap lingkungan.

5.   Komplikasi
               Adapun komplikasi yang dapat terjadi atau muncul karena halusinasi diantaranya adalah:
a.       Munculnya perilaku untuk mencederai diri sendiri,orang lain dan lingkungannya yang     diakibatkan diri persepsi sensori persepsi tanpa adanya stimulus eksternal.
b.      Klien dengan halusinasi membatasi dirinya dengan orang lain karena tidak peka, terhadap sesuatu yang nyata dan tidak nyata.



C.   Rentang Respon neurologi ( Stuart dan sundeen 2008:302)

Respon Adaptif                                                                          Respon maladaptive
 

 -  Pikiran logis                  - Pikiran terkadang menyimpang           - Kelainan pikiran
 -  Pikiran akurat               - Ilusi                                                    - Halusinasi
 -  Emosi konsisten            - Emosional berlebihan              - Tidak mampu mengatur
    dengan pengalaman                                                                     emosi
-      Perilaku sesuai - Perilaku aneh                                     - Perilaku tidak terorganisir
-      Hubungan social           - Menarik diri                                       - Isolasi social

1.     Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain, individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan :
a.       Pikiran logis adalah yang mengarah pada pengalaman
b.      Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan
c.       Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman ahli
d.      Perilaku sesuai adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalaam batas kewajaran

2.      Respon psikososial
a.       Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan gangguan
b.      Ilusi adalah miss interprestasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi (Objek nyata) karena rangsangan panca indera
c.       Emosi berlebihan yang berkurang
d.      Perilaku aneh adalah sikap tingkah laku yang melebihi batas kewajaran
e.       Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain

3.      Respon mal adaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan
a.       Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial
b.      Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada
c.       Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati
d.      Perilaku yang tidak terorganisir merupakan perilaku yang tidak teratur

D. Asuhan Keperawatan
          1. Pengkajian Keperawatan (Stuart Sundeen 2009 : 305)
a.   faktor Predisosisi
                     factor predisposisi yang mungkin mengakibatkan gangguan orientasi realita adalah aspek biologis.
1)   Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau susunan saraf pusat dapat menimbulkan gangguan orientasi realita (halusinasi) seperti hambatan perkembangan otak khususnya korteks frontal, temporal daan limbic.
Gejala yang mungkin muncul adalah habatan dalam belajar,bicara daya ingat a mungkin muncul perilaku menarik diri atau kekerasan.
2)   Psikologis
Keluarga,pengasuh dari lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis dari klien.Sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realita adalah penolakan dapat dirasakan dari ibu,pengasuh atau teman yang bersikap cemas tidak senssitif atau bahkan terlalu melindungi.Pola asuh pada anak-anak yang tidak adekuat misalnya,tidak ada kasih sayang.Diwarnai kekerasan,ada kekerasan emosi,konflik dan kekerasan dalam keluarga (pertengkaran rumah tangga)  merupakan lingkungan resiko gangguan orientasi realita.
3)   Sosial Budaya
Kehidupan sosial budaya dapat pula mempengaruhi gangguan orientasi realitas,seperti kemiskinan,konflik sosial budaya (peperangan,kerusakan,kerawanan)kehidupan yag terisolasi disertai stress yang menumpuk.

b.   Faktor Presipitasi

1)   Biologis
        Stresor biologis yang berhubungan dengan respon neurobilogi yang        maladaptive termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses informasi dan abnormalisasi pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menghadapi rangsangan.
2)   Stres Lingkungan
Secara biologis menetapkan terdapat ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadi gangguan perilaku.

3)   Pemicu Gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon Neurobiologi yang maladaptive berhubungan dengan kesehatan ( gizi buruk, infeksi)lingkungan ( rasa bermusuhan/lingkungan yang penuh kritik, gangguan dalam hubungan interpersonal) sikap dan perilaku (keputusan dan kegagalan).
                      
c.    Manifestasi Klinis ( Stuart dan Sundeen 2009:306-307)

1)   Halusinasi Pendengaran
a.    Melirikan mata kekiri dan kekanan seperti mencari siapa atau apa yang sedang  dibicarakan.
b.   Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang sedang tidak berbicara atau pada benda mati seperti mebel.
c.    Terlibat perakapan dengan benda mati atau dengan seseorang yang tidak tampak.
d.   Menggerak-gerakan mulutvseperti sedang berbicara atau sedang menjawab suara.

2)   Halusinasi penglihatan
                          Adapun perilaku yang dapat teramati sebagai berikut :
a.    Tiba-tiba tampak gagap, ketakutan atau ditakuti oleh orang lain,benda mati atau stimulus yang tidak Nampak.
b.     Tiba-tiba berlari keruang lain.

3)   Halusinasi Penciuman
 Adapun perilaku yang dapat teramati sebagai berikut :
a.    Hidung yang dikerutkan seperti mencium bau yang tidak enak.
b.   Menghindari bau tubuh
c.    Menghindari bau udara ketika sedang berjalan kedaerah lain
d.   Merespon terhadap bau dengan panic,seperti mencium bau api atau darah
e.    Melempar selimut atau menuang air pada orang lain seakan sedang memadamkan api.

4)   Halusinasi Pengecap
    Adapun perilaku yang dapat teramati sebagai berikut :
a.    Meludahkan makanan atau minuman
b.   Menolak makanan atau minuman
c.    Tiba-tiba meninggalkan meja makan

5)   Halusinasi Peraba
                         Adapun perilaku yang dapat teramati sebagai berikut:
a.    Menggosok-gosokan tangan/kaki/wajah
b.   Merasakn sesuatu yang beralam

d.Mekanisme Koping

1)   Regresi
Menghindari stress, kecemasan dan menampilkan perilaku kembali seperti perilaku perkembangan anak (Berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk menanggulangi ansietas.
2)   Proyeksi
Keinginan yang tidak dapat ditoleransi,mencurahkan emosi pada orang lain karena kesalahan yang dilakukan diri (sebagai upaya untuk menjelaskan kerancauan persepsi)
3)   Menarik Diri
Reaksi yang ditampilakan dapat berupa reaksi fisik maupun psikolgis,reaksi fisik yaitu individu pergi atau lari menghindari sumber stressor,misalnya menjauhi polusi,sumber infeksi gas beracun dan lain-lain,sedangkan reaksi psikologis individu menunjukan perilaku apatis,mengisolasi diri,tidak berminat,sering disertai rasa takut dan bermusuhan.

E.      Penatalaksanaan Medis
          Gangguan sensori persepsi: Halusinasi pendengaran termasuk dalam kelompok     penyakit skizofrenia,maka jenis penatalaksanaan yang bisa dilakukan adalah:
1.    Psikofarmaka
           Psikofarmaka adalah terapi dengan penggunaan obat ,tujuannya untuk menghilangkan gejala,ganggua jiwa,adapun yang tergolong dalam pengobatan psikofarmaka:
a.     Clorpromazine (Cpz)
Aturan pakai             : 3 x  25 mg / hari kemudian dinaikan sampai batas normal
Indikasi                     : Untuk pengobatan psikos
Efek samping            : Hipotensi,aritimia,takikardia,penglihatan kabur dan sindrom  perkinson 
b.     Trifluoperasin (Stelazine)
Aturan pakai             : 3 x 1 sampai 5 mg / hari dosis setinggi 50 mg / hari
Indikasi                     : Diberikan kepada klien dengan gangguan mental organic dengan gejala psikolik yang menarik diri
Efek samping            : Ekstrapiramidal  
c.     Triosidiasin ( Meleril)
Aturan pakai             : Tergantung pada berat ringan gejala,gangguan yang ringan 50-70 mg / hari
Indikasi                     : Untuk keadaan psikosis,kecemasan dan refleksi cemas
Efek samping            : Hipotensi dan gangguan fungsi liver
d.     Diazepam (valium)
Aturan pakai              : 5 s/d 10 mg  hari akan mengatasi gejala ansietas akut dalam 1 jam dosis teratur 2 sampai 20 mg / hari
Indikasi                     : Psikoneurosis Ansietas
Efek sampai              : Pada awalnya timbul rasa ngantuk terapi toleransi timbul setelah beberapa hari
e.     Halloperidoll (Haidol Serenace)
Aturan pakai              : 5 s/d 10 mg / hari secara intramuscular dan dapat diulang 2-4 jam,dosis oral 5 s/d 20 mg / hari
Indikasi                      : Bukan saja untuk mania tetapi juga pada skizofrenia
f.       Trihexyfenidil (THP)
Aturan pakai               : 5 s/d 10 mg / hari secara intramuscular dan dapat diulang 2-4 jam,dosis oral 5 s/d 20 mg / hari
2.    Therapy Somatik
            Terapi somatic merupakan suatu therapy yang akan dilakukan langsung mengenai tubuh.Adapun yang termasuk therapy somatic adalah :
a.    Elektro Convulsif Therapy
Merupakan pengobatan secara fisik menggunakan arus listrik dengan kekuatan 75-100 volt, cara kerja belum diketahui secara jelas namun dapat dikatakan bahwa terapi ini dapat memperpendek lamanya serangan Skizofrenia dan dapat mempermudah kontak dengan orang lain.
b.   Pengekangan atau pengikatan
Pengembangan fisik menggunakan pengekangannya mekanik seperti manset untuk pergelangan tangan dan pergelangan kaki sprei pengekangan dimana klien dapat dimobilisasi dengan membalutnya,cara ini dilakukan pada klien halusinasi yang mulai menunjukan perilaku kekerasan diantaranya : marah-marah / mengamuk.


c.    Isolasi Sosial
Isolasi sosial dapat menempatkan klien dalam suatu ruangan dimana klien tidak dapat keluar dari ruangan tersebut sesuai kehendaknya.Cara ini dilakukan pada klien halusinasi yang telah melakukan perilaku kekerasan seperti memukul orang lain / teman,merusak lingkungan dan memecahkan barang-barang yang ada didekatnya.


F.      Pohon Masalah

                            Resiko perilaku kekerasan                     


                 
Gangguan Sensori persepsi : Halusinasi pendengaran
                                                 
               

                                   Isolasi Sosial                  

1.    Diagnosa Keperawatan
a.    GSP : Halusinasi Pendengaran
b.   Isolasi Sosial
c.    Resiko perilaku kekerasan

2.      Perencanaan Keperawatan
a.    DX 1   : Gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
        TUM   : Klien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya
        TUK    : Klien dapat membina hubungan saling percaya
        Kriteria Evaluasi
        Setelah…..x interaksi klien menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat
-Ekspresi wajah bersahabat
-Menunjukan rasa senang
-Ada kontak mata
-Mau berjabat tangan
-Mau menyebutkan nama
-Mau menjawab salam
-Mau duduk berdampingan dengan perawat
-Bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi
        Intervensi
1.   Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
-         Sapa klien dengan ramah baik secara verbal maupun non verbal
-         Perkenalkan nama-nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan
-         Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
-         Buat kontrak yang jelas
-         Tunjukan sikap yang jujur dan menempati janji setiap kali interaksi
-         Tunjuka sikap menempati dan menerima klienapa adanya
-         Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klie
-         Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan
Klien
        TUK 2 : klien dapat mengenal halusinasinya
            Kriteria Evaluasi :
             Setelah ….x interaksi klien menyebutkan
-         Isi
-         Waktu
-         Frekwensi
-         Situasidan kondisi yang menimbulkan halusinasi
        Intervensi
-         Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
-         Observasi tingkah laku klien,terkait dengan halusinasinya (dengan lihat,penghidu,raba,kecup) jika menemukan klien yang sedang berhalusinasi.
-         Tanyakan apakah klien mengalami sesuatu (halusinasi dengan lihat,penghidu,raba,kecup).
-         Jika klien menjawab ya,tanyakan apa yang sedang dialaminya
-         Katakana bahwa perawat percaya pada  klien mengalami hal tersebut,namun perawat sendiri tidak mengalaminya.
-         Katakan bahwa ada klien yang mengalami hal yang sama
-         Katakan bahwa perawat akan membantu klien
-         Jika klien tidak sedang berhalusinasi klarifikasi tentang adanya pengalaman halusinasi,diskusikan dengan klien
-         Isi,waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi,siang,sore dan malam)situasi dan kondisi yang menimbulkan tidak menimbulkan halusinasi.
        Kriteria Evaluasi :
Setelah….x interaksi klien mengatakan perasaan dan responnya saat mengalami halusiasi
-         Marah
-         Takut
-         Sedih
-         Senang
-         Cemas
-         Jengkel

        Intervensi
-         Diskusikam dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi dan beri  kesempatan mengungkapkan perasaannya
-         Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut
-         Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bila klien menikmati halusinasi
        TUK 3 : Klien dapat mengontrol halusinasinya
        Kriteria Evaluasi :
a.       Setelah…..x interaksi klien menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya
Intervensi
      Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur,marah,menyibukan diri,dll)
b.         Setelah interaksi……….x klien menyebutkan cara baru mengontrol halusinasi
Interaksi
Diskusikan cara yang digunakan klien
- Jika cara yang digunakan addaptif,beri pujian
- Jika cara yang digunakan maladaptive diskusikan kerugian cara tersebut
c.          Setelah……….x interaksi klien dapat memilih da memperagakan cara mengatasi halusinasi ( dengan lihat,penghidu,raba,kecap)
        Intervensi
   Diskusikan  cara baru untuk memutus / mengontrol timbulnya halusinasi:
-      Katakan pada diri sendiri bahwa ini tidak nyata ( saya tidak mendengar/lihat/peghidu/raba/kecap saat berhalusiasi)
-      Menemui orang lain (perawat/teman/anggota keluarga) untuk menceritakan tentang halusinasinya
-      Membuat dan melaksanakan jadwal kegiatan sehari-hari yang telah disusun
-      Meminta keluarga / teman perawat,menyapa jika sedang berhalusinasi
-      Bantu klien memilih cara yang sudah dianjurkan dan dilatih untuk mencobanya
-      Bantu klien cara yang sudah dianjurkan dan dilatih untuk mencobanya
-      Beri kesempatan untuk melakukan cara yang dipilih dan dilatih
-      Pantau pelaksana yang telah dipilih dan dilatih jika berhasil diberi pujian
-      Anjurkan klien terapi aktivitas kelompok,orientasi realita,stimulasi persepsi


        TUK 4 : Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya
         Kriteria Evaluasi:
a.   Setelah…..x pertemuan keluarga,keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti pertemuan dengan perawat buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan (waktu tempat dan topic)
a.    Setelah……x interaksi keluarga menyebukan pengertian,tanda da gejala proses terjadinya halusinasi dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi
        Intervensi
  Diskusikan dengan keluarga pada saat pertemuan keluarga kunjungan rumah:
-         Pengertian halusinasi
-         Tanda dan gejala halusinasi
-         Proses terjadinya halusinasi
-         Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi
-         Obat-obatan halusinasi
-         Cara merawat anggoata keluarga yang halusinasi dirumah (diberi kegiatan,jangan biarkan sendiri,makan bersama,berpergian bersama)
-         Memantau obat-obatan dan cara pemberiannya untuk mengatasi halusinasi
-         Beri informasi waktu control kerumah sakit dan bagaimana cara mencari bantuan jika halusinasinya tidak dapat diatasi dirumah
        TUK 5 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
        Kriteria Evaluasi
a.    Setelah  ….x interaksi klien menyebutkan:
-         Manfaat obat
-         Kerugian tidak minum obat
-         Nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat
Intervensi :
            Diskusikan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum  obat,nama,warna,dosis,efek terapi dan efek samping  penggunaan obat.
b.   Setelah…..x interaksi klien mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar
        Intervensi : Pantau klien saat penggunaan obat
c.  Setelah…..x interaksi klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa kosultasi dokter
Intervensi
-  Beri pujian jika menggunakan obat dengan benar
-  Diskusikan akibat berhenti minum obat konsultasi dengan dokter
-  Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter / perawat jika terjadi hal-hal  yang tidak diinginkan
3.   Pelaksanaa Kegiatan
   Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Nursalam 2001)
Ada tiga tahapan dalam tindakan keperawatan yaitu:
a.       Persiapan
1)         Review antisipasi tindakan keperwatan
2)         Menganalisa dan keterampilan yang diperlukan
3)         Mengetahui komplikasi yang timbul
4)         Mempersiapkan lingkungan yang kondusif
b.      Intervensi
1)         Independen
Suatu kegiatan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya
2)         Independen
Menjelaskan suatu kegiatan yag memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya
3)         Dependen
Berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis
c.       Dokumentasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan

4.      Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh keberhasilan yang telah dicapai dari dignosa keperawatan, rencana tindakan dari pelaksanaan.Adapun hal-hal yang dievaluasi pada klien dengan perubahan sensori persepsi halusinasi bagi klien dan keluarga adalah sebagai berikut:
a.    Klien
1)   Klien mampu menyebutkan perasaan saat terjadi halusinasi
2)   Klien mampu membedakan hal yang nyata dan hal yang tidak nyata
3)   Kllien mampu menjelaskan waktu isi frekuensi muncul halusinasi
4)   Klien mampu menyebutkan dosis,nama,manfaat dan efek samping obat
5)   Klien mampu mengontrol terjadinya halusinasi
6)   Klien mampu untuk tidak melukai diri sendiri,orang lain dan lingkungan
b.   Keluarga
1)   Keluarga mampu mengidentifikasi gejala halusinasi
2)   Keluarga mampu mengetahui cara merawat klien (cara mengontrol halusinasi dan obat yang diminum
3)   Keluarga memberi dukungan perawatan klien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar